Saat Cinta Kehilangan Logika

Saat Cinta Kehilangan Logika
  Cinta,cinta, dan cinta lagi,tak adakah yang lain? Membicarakan SEO saya belum mampu,semalam saja saya mempelajari SEO sampai pukul 4 dini hari,hasilnya…..? Sekarang kantuk menyerangku dengan dasyatnya! Hahaha,benar apa yang diulas senior kita Tips Wisata Murah,sama halnyaSEO,cinta juga menarik untuk kita bicarakan dan pelajari.Seo dan Cinta punya kesamaan kesabaran dalam mempelajarinya,tak cukup hanya instant.
   Judul diatas hanya PDKT saya terhadap Agnes Monica,jangan cemburu Yas yach? Ampun Dj..,Rn bercanda  Yas,abisnya Ayas ngerjain Rn tak tanggung-tanggung, tapi memang mengasyikan ko Yas.Insya Allah nanti PR dari Ayas Rn kerjakan,sekarang ada kabar yang menggelitik hati Rn ketika melihat berita TV tadi pagi.
1. Seorang pelajar sebuah smu di satu daerah bunuh diri karena ditolak cintanya oleh kekasih hatinya
2. Seorang mahasiwa membunuh pacarnya lantaran cemburu
3. Seorang suami tega membunuh istrinya disebabkan pula karena cemburu
Masih banyak berita di TV yang mengabarkan pembunuhan karena cinta yang tanpa logika! Cinta dan cemburu??? Tanpa cemburu,cinta seakan omong kosong belaka. Karena cinta dan cemburu pula, asa dan cita-cita hanya mengantarkan kita sampai ke penjara saja. Tiga point diatas mengajarkan tentang cinta yang salah jalan yang diperankan dengan sangat tragis oleh oknum cinta, oleh elemen masyarakat yang digembar-gemborkan memiliki tingkat intelektual yang tinggi sehingga mampu menggunakan akal warasnya ketika hendak melakukan sesuatu. Sang pemain cinta tidak lagi mengindahkan skenario dari Sang Sutradara Agung tentang jalan meretas asa cinta. Sang pemain cinta lebih suka menggunakan skenario pilihannya sendiri, suka dan mencintai wanita yang cantik, tanpa melihat dari ukuran Agama dan memilih menggunakan alur yang dituntunkan oleh Syetan dan Hawa Nafsunya.
   Betapa banyak kalangan intelektual muda yang menggunakan akalnya hanya untuk urusan akademis, tetapi menggunakan hawa nafsunya ketika merambah dunia "cinta". Memiliki pacar seakan manjadi komoditas yang sangat pantas disandang oleh intelektual muda tersebut. Bukan berarti mencintai harus dengan logika tanpa perasaan dan emosi, toh hakekatnya perasaan dan emosi terkadang tidak sejalan dengan akal sehat manusia. Jika perasaan dan emosi yang berbicara maka tertutuplah pancaran akal sehat manusia.
    Jalan mencari dan menyalurkan hasrat cinta terkadang membawa manusia pada jalan berliku tanpa logika. Begitu pula ketika cinta diejawantahkan dengan jalan berdua-duaan dengan sang pacar, hingga terjadilah hal yang dikhawatirkan (perzinaan) atau hal-hal yang mendekatinya. begitu pula cerita pembunuhan lantaran berawal dari cinta. Maka dimanakah letak akal sehat intelektual muda yang didamba masyarakat secara umum?. Jika jalan meretas cinta lebih memilih tanpa logika dan mengekor nafsunya silahkan bersiap diri dengan memanen Cinta tanpa logika yang berbuah  api neraka,audzubilahimindalik !
 

Pagerank Update Siapa Mau

PagerRank  Update, Siapa Mau ?
  Disamping kegetiran saya saat ini,saya membawa kabar baik untuk  para sahabat blogger  tercinta. PagerRank lagi update.Silahkan sahabat, update website-nya sekarang.
  Sesuai  kepercayaan masing-masing silahkan sobat pilih versi yang sobat percayai .Jangan lupa Bismillah dulu agar hasilnya sesuai dengan yang dikehendaki sobat. Saya barusan update disini:
            1.http://prchecker.info/
            2.http://pr.proxin.cn/

Alhamdulilah,hasilnya bisa sobat lihat di Site Meter saya disebelah kiri sobat.
   Tak lupa saya haturkan Terima Kasih kepada mBah Google dan untukmu sahabatksobat Ray ini senantiasa tidak mengenal lelah membawa kabar terbaru untuk kita semua ke dasbor blog kita,sukses selalu untukmu sobat, do'aku tulus untukmu .Amin!
 

Gempa Mengguncang Lagi Papua

Gempa Mengguncang Lagi Papua
  Dalam suasana tenang dan lagi asyiknya blogwalking saya dikejutkan dengan guncangan gempa hingga semua penghuni rumah berlarian keluar. Meski pusat gempa berada disekitar Manokwari,namun guncangan gempa ini terasa besar di Serui.Saya hanya meminta doa dari sahabat semua agar gempa ini tidak berdampak buruk bagi Papua.Amin!
  Menurut berita yang saya baca di Liputan 6.com Jayapura, gempa tadi malam, Ahad (26/6) pada pukul 19.16 WIB atau 21.16 WIT  berkekuatan 6,5 pada skala Richter,Badan Meteorologi, klimatologi, dan Geofisika (BMKG),menyebutkan pusat gempanya berada di 53 kilometer laut Waren-Papua pada kedalaman 132 kilometer .Meski  BMKG tidak mengeluarkan peringatan tsunami,namun sebagian warga masih tetap berjaga-jaga dan mengantisipasi gempa susulan yang lebih besar. Kami masih merasa trauma dengan kejadian tahun lalu gempa yang berkekuatan besar sempat melumpuhkan kota Serui dan meminta banyak korban.
 

Raihana

Raihana
    Judul aslinya “Pudarnya Cahaya Cleopatra”,ceritanya agak panjang namun sangat menarik untuk kita baca dan maknai pesan moral yang terkandung didalamnya...,kesetiaan sejati dari seorang istri....,Raihana.
   Saya ambil cerita ini dari postingan saudara Erik sekitar dua tahun kebelakang yang tidak sempat saya simpan linknya.Namun ketika tadi jalan-jalan pagi sehabis shalat subuh saya menemukan cerita yang sama di postingan sahabat Iqbal_Ir yang bersumber pada Buku “Pudarnya Pesona Cleopatra” (Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa) Karya: Habiburrahman El Shirazy (Penulis Novel best seller Ayat-ayat Cinta).Hanya afresiasi saya saja terhadap Habiburrahman yang memang karya-karyanya sangat bagus. Selamat menikmati !
  Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.
"Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu," kata ibu.
"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu,"
ucap beliau dengan nada mengiba.
   Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku. Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai.
  Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "Cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli!" kata tante Lia.
Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.
   Hari pernikahan datang. Duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, pesta pun meriah dengan empat grup rebana. Lantunan shalawat Nabi pun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing.
   Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihana pun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka dia pun tanya, tetapi kujawab, "Tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga."
Ada kekagetan yang kutangkap di wajah Raihana ketika kupanggil 'mbak'.
"Kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku?" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.
"Wallahu a'lam." jawabku sekenanya.
Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku,
"Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri, kenapa mas ucapkan akad nikah?"
"Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku di dunia ini."
Raihana mengiba penuh pasrah.
  Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai di rumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi. Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman.
Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa?" tanyanya dengan perasaan kuatir.
"Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih." lanjutnya.
Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap," kata Raihana.
Aku tak bicara sepatah kata pun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri di depan pintu membawa handuk.
"Mas aku buatkan wedang jahe ya." Aku diam saja.
Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu,
"Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar.
"Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas," ucap Raihana.
Biasanya dikerokin," jawabku lirih.
"Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin," sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku.
Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus.
   Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau.
Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al-Qur'an dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.
Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.
"Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu," kata Ratu Cleopatra.
"Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu."
    Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba,
"Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum shalat Isya," kata Raihana membangunkanku.
Aku terbangun dengan perasaan kecewa. "Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum shalat Isya," lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai shalat malam.
   
Meskipun cuman mimpi, tapi itu indah sekali, sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk shalat Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.
"Mas, nanti sore ada acara aqiqah di rumah Yu Imah.
Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang." Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.
Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja.
"Maaf, maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya.
Lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja.
"Mbak! Eh maaf, maksudku D.. Din.. Dinda Hana!" panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan.
"Ya, Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum,
agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". Matanya sedikit berbinar.
"Te.. terima kasih Di.. dinda, kita berangkat bareng kesana, habis shalat dzuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang
kupaksakan.
Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar di bibirnya.
"Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana, Mas? Biar dinda siapkan. Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?"
  Hana begitu bahagia. Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah.
Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini. Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.
   Acara pengajian dan aqiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
"Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!" Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain.
Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.
Apanya yang ideal? Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al-Qur'an lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.
  Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan.
"Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu," kata ibuku.
" Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, do'akanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.
                                                                                        
 

Raihana Bagian II

Raihana Bagian II
    Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. 

  Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya, "Mana tanggung jawabmu!"
   Aku hanya diam dan mendesah sedih. "Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta," gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan keenam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orangtuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaannya dan kuantarkan dia ke rumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakkan.
Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, "Mas, untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh di bawah bantal, nomor PIN-nya sama dengan tanggal pernikahan kita."
  Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing, dan perut mual. Saat itu terlintas di hati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut.
   Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum shalat Isya dan terlambat shalat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku nggak meninggalkan shalat Isya, dan tidak terlambat shalat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa Arab. Diantara tutornya adalah professor bahasa Arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa Arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani.
"Apakah kamu sudah menikah?" tanya Pak Qalyubi.
"Alhamdulillah, sudah," jawabku.
"Dengan orang mana?" tanyanya.
"Orang Jawa," sahutku.
"Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?" lanjutnya.
"Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al-Qur'an." jawabku singkat.
"Kau sangat beruntung, tidak sepertiku. Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang. Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini.Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orangtua. Di sana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.
   Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al-Azhar yang hafal Al-Qur'an, shalehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orangtuanya.
  Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin.Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun ke Mesir, tetapi tiga tahun sekali, namun Yasmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal.
Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik dan dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya ingin rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.
   Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.Saya menyesal meletakkan kecantikan di atas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut.Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan.”
"Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir." kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar.
Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satu pun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang."
  Mendengar cerita Pak Qulyubi,… membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang di mataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap di hati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia.
  Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala di dindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku.
   Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakkan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan di bawah bantal. Di bawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat suratsurat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku "serong"?
   Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi, ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi, cinta istriku.
Betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya Allah, ia tetap setia memanjatkan do'a untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
"Rabbi… dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapanMu. Lakal hamdu, ya Rabb... telah Engkau muliakan hamba dengan Al-Qur'an. Kalaulah bukan karena karuniaMu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok ke dalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba," tulis Raihana.
Dalam akhir tulisannya, Raihana berdo'a,
"Ya Allah, inilah hambaMu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadiratMu.
Ya Allah, sudah tujuh bulan ini hambaMu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya?
Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hambaMu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
    Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya.
Ya Allah, berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.
Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karenaMu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan caraMu. Tegurlah dia dengan teguranMu.
Ya Allah, dengarkanlah do'a hambaMu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Mahasuci Engkau."
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tangannya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta.
   Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihana tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat di mata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan.
Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu.
Aku jadi heran dan ikut menangis. "Mana Raihana, Bu?"
Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Raihana... Istrimu.. Istrimu dan anakmu yang dikandungnya."
"Ada apa dengan dia?"
"Dia telah tiada."
"Ibu berkata apa?"
"Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit.
Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhainya."
Hatiku bergetar hebat. "Ke.... Kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?"
"Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakkan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus, katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami."
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada.
Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telahmeninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya, dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya.
   Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru di kuburan pinggir desa. Di atas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis di sana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu, dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali.
Dunia tiba-tiba gelap semua...
 

Raihan Award Lagi Untuk Cinta Deras

Raihan Award Lagi Untuk Cinta Deras  Raihan Award Lagi Untuk Cinta Deras.Ternyata kecintaanku kepada dunia blogger semakin menggebu dan tak pernah surut.Bukti pagi ini begitu bangun dari mimpi semalam,sehabis shalat subuh langsung membuka blog kesayangan ini,tentunya setelah beres mengaji dan dzikir.Ada hal terindah dan menyenangkan pagi ini,begitu membuka buku tamu yang sudah usang dan terpampang namaku sebagai  penerima award dari sahabat terbaik Puntadewa Idiot | Aal Izz Well  Hanya ucapan terima kasih yang bisa saya persembahkan untukmu kawan,semoga Allah membalas semua kebaikanmu ,Amin!

 Sesuai dengan misi blog ini,award inipun membawa symbol persahabatan,dengan award tali silaturahmi antar sesama blogger semakin kuat dan tetap terjaga kokoh.Entah award keberapa ini sob,karena award-award sebelumnya belum sempat saya ambil karena berbagai alasan…..,koneksi jaringan dan ini penyakit yang manusiawi sekali…..lupa karena sibuknya beraktifitas untuk “menghidupkan dpr”.

     Untuk sahabat yang sudah berkenan memberi award ke Cinta Deras dan belum sempat saya ambil silahkan saja konfirmasi di kotak komentar postingan ini,sudilah kiranya sahabat menamparkan maafnya untuk saya karena keterlambatan dalam meng-eksekusi award sahabat.

   Ingin rasanya award ini saya bagikan untuk semua sahabat yang Cinta Deras namun sesuai pengemban amanah sebelumnya yaitu Mas Raditz,award ini hanya untuk yang pemberi komentar kepada blog kita.Saya-pun terjebak diantara kebingungan,karena semua adalah sahabat terbaik meski tak masuk kotak komentar.Maka saya ambil kebijakan dengan mengocok link yang ada di main pages juga link di postingan blog ini yang saya masukan ke gelas undian,dan ini urutan yang keluar :

 1.Bagi Bagio
 2.Obat Sakit2011
 3.Seurune
 4.MaphiaBlack
 5.Zhanaz45
 6.Anisayu
 7.New BerryMor
 8.Rezdown7
 9.Wahyu
10.ToyotaCommunity
11.Penghuni 60
12. Kebarongan

          You  Next......>> 
   
Mohon maaf apabila terjadi kesalahan dalam penulisan nama sahabat sekalian.
Ini awardnya sob dua sekaligus,cantik khan?

Raihan Award Lagi Untuk Cinta Deras
Raihan Award Lagi Untuk Cinta Deras

Sudi kiranya menerima 2 award tersebut dari saya dengan ketentuan sebagai berikut :
    1.Bagi para sahabat yang menerima Award berkewajiban memberikan ucapan Terima Kasih karena ucapan terima kasih adalah ucapan yang sangat mulia dan lebih berharga dari pada hadiah emas. 
Yang udah mendapatkan AWARD ini. Sebarkan Ketemannya Harus Bersumber dari Cinta Deras
    2.Bagi para sahabat juga berkewajiban untuk Follow dan memasang Link/Banner blog Sobat yang memberikan Award. 
    3.Sobat yang menerima berkewajiban memberikan Award ini kepada para Sahabat yang selalu memberikan komentarnya. 
       4.Bagi para sahabat berkewajiban memberikan komentar di bawah ini sebelum mengambil Award.
Jangan lupa Like blog ini juga yah.
      Begitulah sahabatku kira-kira,andai sudah ada waktu silahkan segera di eksekusi awardnya.Makasih untuk semua sahabat yang telah memberikan perhatinya dan memberikan kecintaannya kepada Cinta Deras, Happy Blogwalking!
 

Arti Sahabat


Arti Sahabat
   Pada awalnya aku sering mengira bisa melalui tempaan hidup ini dengan hati lapang dan tabah.Seperti ketika aku kehilangan seseorang yang begitu berkesan dihati. Sepertinya aku merelakan dirinya pergi dalam menjalani hidupnya, seperti sedia kala. Tapi ternyata tidak. Aku tak sekuat yang aku kira. Seringnya aku merenungi kebodohan yang telah aku lakukan. Aku menyesal dan mengutuki diri sendiri atas kesalahan fatal yang sudah ku perbuat, apalagi upaya untuk  memohon maafnya sia-sia belaka. Semua hancur,bak kapal yang diterjang gelombang,berkeping-keping dan hanya menyisakan serpih-serpih kecil.
   Dalam keterpurukan hati serta kesedihan yang menusuk jantung, aku mencoba mencari sahabat yang lama tak bertemu,satu sahabat yang  biasa “menampung” beban pikiran yang sedang aku hadapi dan mencari pencerahan terbaik darinya. Dan sungguh, setelah menerima kata-katanya sepahit apapun cara dia   mengungkapkannya,perasaan aku menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebuah tepukan hangat dipundakku yang dibarengi senyum manis sahabatku, segera melerai gundah di hati. “Jangan sedih saudaraku, selalu ada hikmah terbaik di balik setiap peristiwa. Anggap saja apa yang kau alami sekarang adalah bagian dari prosesmu menjadi dewasa, menjadi lebih kuat lagi menghadapi tantangan hidup dimasa depan, ” ucap kawanku dengan lembut,serasa bagai lilin yang menerangi malam kala gelap gulita,sinarnya  memberi bias damai dihati. Aku merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia.

          Kita terkadang pernah merasa setangguh seperti yang selama ini kita banggakan, Sekuat seperti apa yang kita bayangkan. Sehebat seperti yang kita kira. Bahkan dengan pongah, kita mungkin pernah merasa mampu menanggulangi dan menaklukkan segala persoalan apapun yang dihadapi, sendirian,tanpa perlu bantuan siapapun juga. Padahal sesungguhnya, kita sendiri, dibalik semua kebanggaan, prasangka diri dan kehebatan yang sudah kita gembar-gemborkan dan pamerkan kemana-mana, bisa jadi justru memiliki jiwa yang rapuh dibaliknya. Semuanya hanyalah sebuah fatamorgana semu dari sebuah kelemahan diri kita sebagai manusia biasa. Bisa dikatakan, seseorang menjelma menjadi seorang manusia yang sombong ketika ia sama sekali tak mengharapkan sosok sahabat sejati mengiringi langkahnya, walau hanya dengan sebait kecil alunan doa sekalipun.

 

Berakhir Pekan di Pantai Mariadei-Serui Papua

Berakhir Pekan di Pantai Mariadei-Serui Papua
  Bakar ikan,mengenang sahabat yang sudah pergi,sambil dengar  alunan tembang Dadali  Disaat- Kau Pergi dari Mp4 yang ku bawa dari rumah, semakin tidak singkron saja dengan suasana pembakaran ikan yang panas hareudang (bhs sunda = gerah : P)  hehehe!

  Pantai Mariadei terletak di sebelah barat dari kota Serui, sekitar 2 km dari jantung kota.Tidak terlalu ramai dengan pengunjung punya pemandangan yang  indah dan asri,namun sayang begitu banyak pecahann botol minuman keras bila saja kita tak berhati-hati, kaki kita bisa luka terkena pecahannya.
   Saya mengambil posisi agak sedikit ke kiri dari pantai Mariadei yaitu pantai Pertamina yang agak sedikit sepi dari lalu-lalang pengunjung.Pantai Pertamina hanya bersebrangan dari Pantai Maridei .Pantai ini bisa kita jadikan alternatif penghilang rasa jenuh dari rutinitas kerja,akan semakin asyik bila kita bareng  keluarga tercinta.

                                         Pantai Pertamina Mariadei                                          
Berakhir Pekan di Pantai Mariadei-Serui Papua
                                         
                                        Berenang memacu lapar
Berakhir Pekan di Pantai Mariadei-Serui Papua
             Bakar Ikan jadi menu nikmat setelah berenang di pantai :
Berakhir Pekan di Pantai Mariadei-Serui Papua

Berakhir Pekan di Pantai Mariadei-Serui Papua

  Ok,sahabatku,karena waktu jualah kita tak bisa berlama-lama di pantai.Sebenarnya masih kepingin terus namun kami meninggalkan jemuran di rumah dan suasana sudah agak sedikit mendung.Saya tunggu kehadiran sahabat untuk berlibur di Pantai Mariadei yang molek nan mempesona.

 

Ada Apa Dengan Cinta Deras

Ada Apa Dengan Cinta Deras
“Sahabatku tercinta,karena keteledoran saya, barang satu2nya milik Cinta Deras yang sangat berharga "Buku Tamu Blog" tersembunyi telah hilang .Jadi untuk sementara silahkan saja hajar kotak komentar saya,itupun bila sahabat berkenan.Seandainya tidak sempatpun saya mengucap banyak terima kasih karena sahabat telah sudi mampir di blog sederhana ini! Happy Blogwalking!”

 

Waktu Akan Menyelamatkanmu Cinta

Waktu Akan Menyelamatkanmu Cinta
  Bukan itu tujuanku.....,aku hadir  untuk menyayangimu setulus hati dan jiwaku.Andai saja siang tadi aku mendengar "hatiku" untuk tidak menemui kamu  tak akan terjadi hal seperti ini.Jangankan untuk melihatnya,mendengar saja aku tak mampu,begitu berat beban yang harus kamu tanggung.Andai saja aku boleh meminta dan bisa digantikan,biarlah aku saja yang menanggung semua ini.Semestinya kita siap kehilangan,namun bukan dengan cara itu yang kita inginkan.
   Apa yang bisa kuperbuat untuk menyelamatkanmu....,dan apa yang bisa kuperbuat untuk menebus semua  kesalahan terbesar dalam hidupku?
Selain berdoa kepadaNYA agar dirimu kuat dan tabah dalam menerima cobaan hidup ini,Amin! Ini sepenggal kisah dari Cinta dan Waktu,yang aku sadur dari Mutiara Hati.Besar harapanku....,ceritanya bisa menyejukan hatimu yang sedang gundah dan jiwa yang menderita.



Cinta kan selalu ada
Ditiap awal kita membuka mata
Ditiap akhir kita menutup masa
Karena cinta hal terindah yang pernah ada
Yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta
Kepada kita, umat manusia
Kepada mereka, bangsa flora dan fauna
Bagai kata dengan awal yang sempurna
Bagai cerita dengan akhir yang bahagia
Cinta, satu kata sejuta makna. 
Cinta, satu frasa sejuta rasa.
 
  Alkisah, di suatu pulau kecil tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada cinta, kekayaan, kecantikan, kesedihan, kegembiraan, dan sebagai. Awalnya, mereka hidup berdampingan dengan harmonis dan saling melengkapi. Namun, suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu, dan air laut tiba-tiba naik semakin tinggi dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu, air makin naik membasahi kaki Cinta.
    Tak lama berselang, Cinta melihat Kekayaan sedang naik kapal mewahnya. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta. Lalu, apa jawab Kekayaan? "Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "Kapalku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti kapal ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat bagimu di kapalku ini." Lalu Kekayaan cepat-cepat menancap gas kapalnya pergi meninggalkan Cinta.
   Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Kegembiraan! Tolong aku!" teriak Cinta. Namun apa yang terjadi? Kegembiraan terlalu senang karena ia menemukan perahu sehingga ia tuli. Ia tak mendengar teriakan Cinta.
    Air semakin tinggi membasahi setengah tubuh Cinta, dan Cinta semakin panik. Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!" teriak Cinta. Lalu, apa jawab Kecantikan? "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini," sahut Kecantikan.
   Cinta sedih sekali mendengarnya. Cinta mulai menangis terisak-isak. Apa kesalahanku, mengapa semuanya melupakan aku, tak memperdulikanku? Saat itu lewatlah Kesedihan. Lalu Cinta memelas, "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta. Lalu, apa kata Kesedihan, "Maaf, Cinta, aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja. Jangan membuatku tambah sedih karena kamu membebaniku...," kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
   Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Cinta terus berharap kalau dirinya dapat diselamatkan. Lalu ia berdoa kepada Tuhan. "Oh, Tuhan, tolonglah daku, apa jadinya dunia tanpa daku, tanpa Cinta?"
    Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat sesosok tua reyot yang sekujurnya memutih sedang mengayuh perahunya. Lalu, cepat-cepat Cinta naik perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Kemudian, di pulau terdekat, sesosok tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.
     Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengenali siapa sesosok tua yang baik hati menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada  warga di pulau itu, siapa sebenarnya sesosok tua itu. "Oh, sesosok tua tadi? Dia adalah 'waktu'...", kata warga tersebut. Lalu cinta bertanya, "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan, teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku," tanya Cinta heran.
    "Sebab", kata warga itu, "Hanya waktu-lah yang tahu betapa berharganya sebuah Cinta. Tidak ada arti atas Cinta, tapi Cinta sangat berarti. Sesuatu akan berarti apabila dia telah pergi, dan itu hanya waktu yang tahu."

 08 : 45  ,   11 June 2011
Sumber : Mutiara Hati 
 

Masih Perlu Bantuan Sahabatkah?

Masih Perlu Bantuan Sahabatkah?
  Ingin menulis lagi namun jariku rasanya selalu malas untuk menari,entahlah sob….,mungkin kerja seharian yang sangat menyita waktu dan pikiranku,hingga cintakupun ke blog ini agak sedikit kurang perhatian dan terbengkalai.Namun ketika aku membuka buku tamu dan gogling sana-sini ternyata keinginan untuk menulis terasa kuat sekali .Pusing juga cari judulnya,trus nulis apalagi?! Ok sob,aku cerita dulu sedikit sambil pijatan nieh....,cerita sebelum kantuk menyerang!
   Ketika aku pertama kali menginjakan kaki ke kota Serui ini,yang pertama aku lakukan adalah melaporkan diri ke ketua RT disini bahwa saya adalah penghuni baru yang shaleh di daerahnya.Satu hari setelah saya melapor diri,beliau Visit-Follow ke tempatku,mendata kependudukanku dan bersilaturahmi.
Sekilas tentang hidup bermasyarakat dalam lingkungan terkecil Rukun Tetangga! Seandainya saja,ketua RT tersebut saya suruh datang ke rumah tanpa saya memperkenalkan diri dulu, istilah apa untuk saya dari ketua RT tsb? Ini mungkin bahasa tanpa kiasan dari Pak RT untuk saya;"tak perlu menghilangkan martabatmu nak, follow saja klo memang perlu kou ikuti,nanti ku ikuti dirimu.Gitu saja ko repooot!"
   Cerita diatas tidak beda jauh dengan saya pas pertama kali berblogger, sering menulis di buku tamu blog sahabat :"Koment di blog gua,dan follow ya nanti saya follow balik". Memang yang namanya etika jika tidak dipelihara akan menghancurkan jati diri sendiri. Bukankah seharusnya pakai hukum alam saja. Kunjungi blog orang lain dengan memberi sedikit komentar maka Insya Allah akan berkunjung balik. Sangat lucu jika kita meminta orang untuk memberikan komentarnya tapi kita sendiri hanya menulis di buku tamu. Ini salah satu fungsi buku tamu yang gak pas dengan tujuannya,terkadang saya senyum sendiri bila mengingat ini!
    Memang sahabat....,mengurus blog tak semudah membuatnya,apalagi bila blog itu dituntut harus berkarakter.Enam bulan saya hanya belajar etika berblogger mulai dari Follower Yang Lupa ,Tukeran link,dan belajar memamfaatkan Buku Tamu Blogger dengan bijak. Sudah hampir 2 tahun usia blogku tapi apa yang sahabat lihat dari blog sederhana ini? Alexa yang membengkak,dan PageRank yang terpuruk dari 1 ke 0 lagi,artikelnya jauh panggang daripada api.tak ada yang menarik bahkan mendidik sekalipun...,hanya coretan-coretan kecil kala saya jenuh dengan rutinitas kerja,banyak coretanku yang hanya mengenang “mantan pacar” yang sekarang jadi pengasuh anak-anakku,dan ini yang saya mampu dan mungkin ini karakter dari blog seorang pemimpi.Kantuk menyerang  nieh sob! Ok?!
      Kekurangan dan kelebihannya saya serahkan pada sahabatku semua,bila tak beralur mohon maaf toh saya masih belajar,belajar dan belajar.Belajar dari tidak mampu untuk menjadi bisa,terutama dalam hal berblogger yang baik dan benar.Kritik juga saran sahabat,sangat saya dambakan,akan saya terima dengan hati yang terbuka.Tak ada gading yang tak retak,dan bila tak retak bukan gading namanya,Mohon maaf untuk semua kekuranganku,Happy Blogwalking !
 

Cinta Aku dan Kau


Cinta Aku dan Kau
Saat komunikasi itu ada         
Saat mengenang yang indah
Saat itu juga hati bergetar mengenang asa dan rasa
Saat siapa aku juga kau

Aku dan Kau
Hanya susunan abjad yang sama
Hanya karena kalimat " teringat " atau "ingat" atau "mengingatkan"
Hanya karena kata sayang terucap
Hanya karena gayung bersambut


Saat ini 
Aku dan kau
Hanya ada kalimat
Indah dan merindu 
karena ....................
Aku Cinta Kau dan 
Kau Cinta Aku